| Perjuangan |
Industri / perusahaan yang menjadi tulang
pungggung perekonomian masyarakat khususnya masyarakat sekitar, seharusnya
menjadi indicator keadaan masyarakat setempat. Kalau dilihat dari sisi tersebut, maka bila industry/perusahaan tersebut maju dan Berjaya, seharusnya masyarakat
sekitar ikut menikmati kesuksesan keberhasilan industry tersebut. Namun, bila
dilihat dari kenyataan, indicator tersebut tidak sepenuhnya benar, bahkan
seringkali sebaliknya
Masyarakat sekitar wilayah Musholla Agung aL –
Hikmah yang bersebelahan, bahkan “mepet tembok” (jawa) dengan salah satu
perusahaan terbesar di Indonesia bahkan Asia Tenggara, tidak memberikan
kontrubusi pemecahan terhadap masalah ini. Bahkan perusahaan ini terkesan lepas
tangan terhadap kondisi sekitar dengan alasan dana untuk masyarakat sudah
disetor ke pihak pemerintah kota . Masyarakat pun sudah merasa, ‘terbuai’
dengan kesempatan kerja yang diberikan pihak perusahaan, dan ‘tertekan’ karena
perusahaan yang sangat ketat dan sinis dalam hal kritik dan saran dari
masyarakat
Kelihatan sekali Kapitalisme telah menjadi system
di perusahaan ini. Segala urusan diserahkan kepasar. Ratusan orang berjibaku di
pasar. Yang kuat memangsa yang lemah. Yang besar memangsa yang kecil.
Bahkan indikasi perusahaan lebih berkuasa dibanding
dengan pemerintah yang mewakili rakyat terlihat disini. Dalam musyawarah
rencana pembangunan tahunan (musrenbang) yang diadakan beberapa waktu yang
lalu, terlihat jelas keadaan pemerintahan di kota ini telah pincang. Factor yang
menjadi penyebab pincangnya pemerintahan ini adalah tidak adanya penyeimbang
terhadap perusahaan x, sedangkan perusahaan x menjadi penyumbang terbesar
pendapatan daerah. Dengan merasa menjadi penopang pemerintahan, perusahaan bisa
sekali menekan kebijakan pemerintah untuk menghasilkan kebijakan yang mendukung
/ menguntungkan perusahaan tersebut. Setali tiga uang pemerintah yang merasa
ketakutan kehilangan pendapatan utamanya (ketakutan kehilangan subsidi,
pengalihan lokasi perusahaan ke wilayah lain) dengan sukarela mengeluarkan
kebijakan sepihak yang menguntungkan perusahaan
| Lingkungan sekitar |
Walaupun ada fasilitas yang diberikan perusahaan
di lingkungan sekitar, namun fasilitas tersebut peruntukanya sebagian besar
untuk mendukung keberadaan dan kelangsungan perusahaan. Sangat sedikit sekali
manfaat yang bisa diambil masyarakat dari fasilitas tersebut. Kehidupan masyarakat
semakin tertekan dan kepastian hidup di masa depan yang lebih baik semakin
pudar. Pertanyaanya sekarang : Kapankah perusahaan ini berfikir dan atau
memikirkan kemudian melaksanakan pembangunan untuk kelangsungan hidup
masyarakat sekitar untuk mendapat secerca harapan dimasa depan, yang tidak
hanya bercita – cita menjadi buruh pabrik di perusahaan ini? Kapankah pembangunan
untuk masyarakat sekitar yang mengedepankan mental dan spiritual, keilmuan dan
pengetahuan, pendidikan dan ketrampilan, kesehatan dan social dilaksanakan?,
tidak hanya mengedepankan pembangunan fisik yang kosong tanpa semua itu?
| Perusahaan hanya menyumbang 0.5% untuk fasilitas umum ini. |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar