Senin, 15 Agustus 2011

KONTRA INDIKASI : PERUSAHAAN INDUSTRI vs MASYARAKAT KUMUH DI NGADIREJO KEDIRI

Perjuangan

Industri / perusahaan yang menjadi tulang pungggung perekonomian masyarakat khususnya masyarakat sekitar, seharusnya menjadi indicator keadaan masyarakat setempat. Kalau dilihat dari sisi tersebut, maka bila industry/perusahaan tersebut maju dan Berjaya, seharusnya masyarakat sekitar ikut menikmati kesuksesan keberhasilan industry tersebut. Namun, bila dilihat dari kenyataan, indicator tersebut tidak sepenuhnya benar, bahkan seringkali sebaliknya
Masyarakat sekitar wilayah Musholla Agung aL – Hikmah yang bersebelahan, bahkan “mepet tembok” (jawa) dengan salah satu perusahaan terbesar di Indonesia bahkan Asia Tenggara, tidak memberikan kontrubusi pemecahan terhadap masalah ini. Bahkan perusahaan ini terkesan lepas tangan terhadap kondisi sekitar dengan alasan dana untuk masyarakat sudah disetor ke pihak pemerintah kota . Masyarakat pun sudah merasa, ‘terbuai’ dengan kesempatan kerja yang diberikan pihak perusahaan, dan ‘tertekan’ karena perusahaan yang sangat ketat dan sinis dalam hal kritik dan saran dari masyarakat

Kelihatan sekali Kapitalisme telah menjadi system di perusahaan ini. Segala urusan diserahkan kepasar. Ratusan orang berjibaku di pasar. Yang kuat memangsa yang lemah. Yang besar memangsa yang kecil.
Bahkan indikasi perusahaan lebih berkuasa dibanding dengan pemerintah yang mewakili rakyat terlihat disini. Dalam musyawarah rencana pembangunan tahunan (musrenbang) yang diadakan beberapa waktu yang lalu, terlihat jelas keadaan pemerintahan di kota ini telah pincang. Factor yang menjadi penyebab pincangnya pemerintahan ini adalah tidak adanya penyeimbang terhadap perusahaan x, sedangkan perusahaan x menjadi penyumbang terbesar pendapatan daerah. Dengan merasa menjadi penopang pemerintahan, perusahaan bisa sekali menekan kebijakan pemerintah untuk menghasilkan kebijakan yang mendukung / menguntungkan perusahaan tersebut. Setali tiga uang pemerintah yang merasa ketakutan kehilangan pendapatan utamanya (ketakutan kehilangan subsidi, pengalihan lokasi perusahaan ke wilayah lain) dengan sukarela mengeluarkan kebijakan sepihak yang menguntungkan perusahaan
Lingkungan sekitar
Walaupun ada fasilitas yang diberikan perusahaan di lingkungan sekitar, namun fasilitas tersebut peruntukanya sebagian besar untuk mendukung keberadaan dan kelangsungan perusahaan. Sangat sedikit sekali manfaat yang bisa diambil masyarakat dari fasilitas tersebut. Kehidupan masyarakat semakin tertekan dan kepastian hidup di masa depan yang lebih baik semakin pudar. Pertanyaanya sekarang : Kapankah perusahaan ini berfikir dan atau memikirkan kemudian melaksanakan pembangunan untuk kelangsungan hidup masyarakat sekitar untuk mendapat secerca harapan dimasa depan, yang tidak hanya bercita – cita menjadi buruh pabrik di perusahaan ini? Kapankah pembangunan untuk masyarakat sekitar yang mengedepankan mental dan spiritual, keilmuan dan pengetahuan, pendidikan dan ketrampilan, kesehatan dan social dilaksanakan?, tidak hanya mengedepankan pembangunan fisik yang kosong tanpa semua itu?
Perusahaan hanya menyumbang 0.5%
untuk fasilitas umum ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar