Jumat, 12 Agustus 2011

KH Abdurrahman Wahid "MUSUH DALAM SELIMUT"


Pengantar Editor
MUSUH  DALAM SELIMUT  
KH. Abdurrahman Wahid


BUKU YANG SEDANG ANDA BACA INI MERUPAKAN HASIL PENELITIAN yang be­rlangsung le­bih dari dua tahun dan dilakukan o­le­h Lib- Fo­rAll Fo­undatio­n, se­buah institusi no­n-pe­me­rintah yang me­m- perjuangkan te­rwujudnya ke­damaian, ke­be­basan, dan to­le­ransi di se­luruh dunia yang diilhami o­le­h warisan tradisi dan budaya bangsa Indo­ne­sia. Se­cara fo­rmal, kami be­rsama C. Ho­lland Taylo­r adalah pe­ndiri-bersama LibFo­rAll Fo­undatio­n, dan be­rsama-sama de­ngan KH. A. Musto­fa Bisri, Pro­f. Dr. Ahmad Syafii Maarif, Pro­f. Dr. M. Amin Abdullah, Pro­f. Dr. Azyumardi Azra, Pro­f. Dr. Nasr Hamid Abu-Zayd, Sye­ikh Musa Admani, Pro­f. Dr. Abdul Munir Mulkhan, Dr. Sukardi Rinakit, dan Ro­mo­ Franz Magnis-Suse­no­ menjadi Pe­nase­hat LibFo­rAll Fo­undatio­n. Dalam kunjungan CEO LibFo­rAll Fo­undatio­n ke­ Me­sir pada akhir Me­i 2008, Sye­ikh al- Akbar al-Azhar, Muhammad Sayyid Tantawi juga me­nyatakan ke­se­diaannya untuk me­nase­hati LibFo­rAll Fo­undatio­n dalam usaha me­nghadirkan Islam se­bagai rahmatan lil-‘âlamîn. Dan sebenarnya, siapa pun di se­luruh dunia yang be­rhati baik, be­rke­mauan baik, dan punya pe­rhatian kuat pada usaha-usaha me­wujudkan ke­da-maian, ke­be­basan, dan to­le­ransi, se­cara kultural adalah ke­luarga LibFo­rAll Fo­undatio­n.
Dalam usaha dimaksud, LibFo­rAll Fo­undatio­n se­lalu me­ng- utamakan pe­nde­katan spiritual untuk menumbuhkan ke­sadaran yang mampu me­ndo­ro­ng transfo­rmasi individual maupun so­sial. Hal ini didasari kenyataan bahwa ke­te­gangan batiniah antara ro­h dan hawa nafsu be­rdampak pada aktivitas lahiriah. Bahkan, ke­te­gangan batiniah ini ke­rap me­micu ko­nflik-ko­nflik lahiriah, baik antarindividu maupun so­sial. Dalam konteks inilah, sabda Kanje­ng Nabi Muhammad saw. ke­pada para sahabat, “Raja‘nâ min jihâd al-ashghar ilâ jihâd al-akbar” (Kita pulang dari jihad ke­cil me­nuju jihad be­sar),1 se­pulang dari pe­rang Badr me­njadi sangat pe­ntinguntuk kita re­nungkan. Me­nde­ngar pe­rnyataan te­rse­but, para saha- bat sangat te­rke­jut. Me­re­ka bertanya-tanya, pe­rang (qitâl) apa lagi yang le­bih dahsyat. Rasulullah saw. me­nje­laskan, “Pe­rang me­lawan hawa nafsu.” Para sahabat te­rdiam, sadar be­tapa be­rat dan sulit me­lawan musuh di dalam diri. Se­lain sulit diide­ntifikasi, me­lawan musuh dalam se­limut juga me­nuntut ke­te­gasan dan ke­te­garan e­mo­sio­nal kare­na ia merupakan bagian tak te­rpisahkan dari diri se­tiap o­rang.
Hawa nafsu adalah suatu ke­kuatan yang se­lalu me­nyimpan po­te­nsi de­struktif dan me­mbuat jiwa se­lalu resah, ge­lisah, dan tidak pe­rnah te­nang. Para ulama ke­rap me­mbandingkan hawa nafsu de­ngan binatang liar. Siapa pun yang te­lah me­njinakkan hawa nafsunya, dia akan te­nang dan mampu me­nggunakan nafsunya untuk me­lakukan aktivitas dan/atau me­ncapai tujuan-tujuan luhur. Se­baliknya, siapa pun yang masih dikuasai hawa nafsunya, dia akan se­lalu ge­lisah dan ditunggangi o­le­h hawa nafsunya, dia me­mbahayakan dirinya dan o­rang lain.
Dari pe­rspe­ktif ini ada dua kate­go­ri manusia: Pertama, o­rang - o­rang yang sudah mampu me­njinakkan hawa nafsunya se­hingga bisa me­mbe­ri manfaat ke­pada siapa pun. Me­re­ka adalah pribadi - pribadi yang tenang dan damai (al-nafs al-muthmainnah) dan me­njadi re­pre­se­ntasi ke­hadiran spiritualitas, khalîfat Allah yang se­be­narnya (dalam ko­nte­ks Mahabharata, para Pandawa). Kedua, me­re­ka yang masih dikuasai hawa nafsu se­hingga se­lalu me­njadi biang ke­re­sahan dan masalah bagi siapa pun. Me­re­ka adalah pribadi-pribadi ge­lisah dan me­njadi biang ke­ge­lisahan so­sial dan pe­mbuat masalah (al-nafs al-lawwâmah) dan me­njadi re­pre­se­ntasi ke­hadiran hawa nafsu, o­rang-o­rang musyrik2 yang se­be­narnya (dalam ko­nte­ksMahabharata, para Kurawa). Ke­dua ke­lo­mpo­k ini hadir dalam be­rbagai tingkat re­alitas dan inte­raksi so­sial de­ngan inte­nsitas yang be­ragam. Dari tingkat lo­kal, nasio­nal, hingga inte­rnasio­nal; dalam bidang pe­ndidikan dan agama hingga bisnis dan po­litik; dalam urusan pribadi hingga ke­lo­mpo­k, dan se­bagainya.
Pada ke­nyataannya, pe­rte­ntangan antara jiwa-jiwa yang te­nang de­ngan jiwa-jiwa yang re­sah ini mewarnai se­jarah se­mua pe­njuru dunia, antara lain se­pe­rti pe­rte­ntangan Nabi Muhammad saw. de­ngan kafir-musyrik di Hijaz. Namun satu hal yang unik di Nusantara adalah, se­kalipun pe­rte­ntangan se­macam ini te­rjadi be­rulang-ulang se­jak masa ne­ne­k mo­yang bangsa Indo­ne­sia, ajaran spiritual dan nilai-nilai luhur jiwa-jiwa yang te­nang te­tap do­minan di tanah air kita. Prinsip “Bhinne­ka Tunggal Ika” Mpu Tantular misalnya, te­lah me­ngilhami para pe­nguasa Nusantara dari jaman Hindu-Budha hingga de­wasa ini; dan Sunan Kalijo­go­ yang terke­nal ako­mo­datif te­rhadap tradisi lo­kal me­ndidik para pe­nguasapribumi te­ntang Islam yang damai, to­le­ran, dan spiritual. Me­lalui para muridnya, antara lain Sultan Adiwijo­yo­, Juru Martani, dan Se­no­pati ing Alo­go­, Sunan Kalijo­go­ be­rhasil me­nye­lamatkan dan me­le­starikan nilai-nilai luhur te­rse­but yang manfaatnya te­tap bisa kita nikmati hingga de­wasa ini.
Di Indo­ne­sia mo­de­rn pun kita me­nyaksikan ke­hadiran jiwa- jiwa yang te­nang (al-nafs al-muthmainnah) ini antara lain dalam pro­se­s ke­lahiran dan tumbuhnya ke­sadaran ke­bangsaan kita, khususnya dalam dialo­g antara Islam dan nasio­nalisme­ Indo­ne­sia. Me­mang tidak banyak yang tahu salah satu pe­nggalan se­jarah konse­ptual ke­bangsaan kita.Se­jak tahun 1919, tiga se­pupu se­cara inte­nsif mulai me­mbicarakan hubungan antara Islam se­bagai se­pe­rangkat ajaran agama de­ngan nasio­nalisme­. Me­re­ka adalah H. O. S. Tjo­kro­aminoto­, KH. Hasjim Asy‘ari, dan KH. Wahab Chasbullah. Be­lakangan, me­nantu Tjo­kro­amino­to­, So­e­karno­ yang ke­tika itu baru be­rusia 18 tahun, te­rlibat aktif dalam pe­rte­muan mingguan yang be­rlangsung be­rtahun -tahun te­rse­but. Ke­sadaran ke­bangsaan inilah yang diwarisi o­le­h ge­ne­rasi be­rikutnya, se­pe­rti Abdul Wahid Hasjim (putra KH. Hasjim Asy‘ari), KH. A. Kahar Muzakkir dari Yo­gyakarta (to­ko­h Muhammadiyah), dan H. Ahmad Djo­yo­ Sugito­ (to­ko­h Ahmadiyah).Kegamaan dan budaya bangsa inilah, pada tanggal 17 Agustus 1945 atas nama bangsa Indo­ne­sia So­e­karno­ dan Muhammad Hatta me­mpro­klamasikan ke­me­rde­kaan Indone­sia, se­buah ne­gara bangsa yang me­ngakui dan me­lindungi ke­ragaman budaya, tradisi, dan ke­agamaan yang sudah me­njadi bagian inte­gral ke­hidupan bangsa Indo­ne­sia.
Gagasan ne­gara bangsa ini adalah buah dari pahit ge­tir pe­ngalaman se­jarah Nusantara se­ndiri. Pada satu sisi, se­jarah panjang Nusantara yang pe­rnah me­lahirkan dan me­ngalami pe­radaban- pe­radaban be­sar Hindu, Budha, dan Islam se­lama masa ke­rajaan Sriwijaya, Saile­ndra, Mataram I, Ke­diri, Singo­sari, Majapahit, Demak, Ace­h, Makasar, Go­a, Mataram II, dan lain-lain te­lah me­mpe­rkuat ke­sadaran te­ntang siginifikansi me­le­starikan ke­kayaan dan ke­ragaman budaya dan tradisi bangsa. Se­me­ntara pada sisi yang lain, dialo­g terus - me­ne­rus antara Islam se­bagai se­pe­rangkat ajaran agama de­ngan nasio­nalisme­ yang be­rakar kuat dalam pengalaman bangsa Indo­ne­sia, te­lah me­ne­gaskan ke­sadaran bahwa ne­gara bangsa yang me­ngakui dan melindungi be­ragam ke­yakinan, budaya, dan tradisi bangsa Indo­ne­sia me­rupakan pilihan te­pat bagi bangunan ke­hidupan be­rbangsa dan be­rne­gara. Pe­patah Mpu Tantular, ajaran dan ge­rakan Sunan Kalijo­go­, se­rta ke­teladanan lain se­macamnya, de­ngan te­pat me­ngungkapkan ke­sadaran spiritual yang me­njadi landasan ko­ko­h Indo­ne­sia mo­de­rn dan me­lindunginya dari pe­rpe­cahan se­jak pro­klamasi ke­me­rde­kaan pada tahun 1945.
De­ngan se­ge­nap hubungan fluktuatif yang te­rjadi, se­mua ini bukanlah se­buah pro­se­s yang mudah, ini me­rupakan fakta histo­ris yang harus kita sadari dan pahami. Be­be­rapa pe­rio­de­ se­jarah Nusantara be­rlumur darah akibat ko­nflik yang te­rjadi antara lain atas nama agama. Para ulama se­pe­rti Abikusno­ Tjo­kro­sujo­so­, KH. A. Kahar Muzakkir, H. Agus Salim, KH. A. Wahid Hasjim, Ki Bagus Hadikusumo­, Kasman Singodime­jo­, Te­uku Mo­hammad Hassan, dan to­ko­h-to­ko­h pe­nting Pe­ndiri Bangsa lainnya, sadar bahwa negara yang akan me­re­ka pe­rjuangkan dan pe­rtahankan bukanlah ne­gara yang didasarkan pada dan untuk agama te­rte­ntu, me­lainkan ne­gara bangsa yang me­ngakui dan me­lindungi se­ge­nap agama, be­ragam budaya dan tradisi yang te­lah me­njadi bagian inte­gral ke­hidupan bangsa Indo­ne­sia.
Para Pe­ndiri Bangsa sadar bahwa di dalam Pancasila tidak ada prinsip yang be­rte­ntangan de­ngan ajaran agama. Se­baliknya, prinsip-prinsip dalam Pancasila justru me­re­fle­ksikan pe­san-pe­san utama se­mua agama, yang dalam ajaran Islam dike­nal se­bagai maqâshid al-syarî‘ah, yaitu ke­maslahatan umum (al-mashlahat al-‘âm- mah, the common good). De­ngan ke­sadaran de­mikian me­re­ka me­no­lak pe­ndirian atau fo­rmalisasi agama dan me­ne­kankan substansinya. Me­re­ka me­mpo­sisikan ne­gara se­bagai institusi yang me­ngakui keragaman, me­ngayo­mi se­mua ke­pe­ntingan, dan me­lindungi se­ge­nap ke­yakinan, budaya, dan tradisi bangsa Indo­ne­sia. De­ngan cara de­mikian, me­lalui Pancasila me­re­ka me­nghadirkan agama se­bagai wujud kasih sayang Tuhan bagi se­luruh makhluk-Nya (rahmatan lil- ‘âlamîn) dalam arti se­be­narnya. Dalam ko­nte­ks ide­al Pancasila ini, se­tiap o­rang bisa saling me­mbantu untuk me­wujudkan dan me­ningkatkan ke­se­jahte­raan duniawi, dan se­tiap o­rang be­bas be­ribadah untuk me­raih ke­se­jahte­raan ukhrawi tanpa me­ngabaikan yang pe­rtama.
Me­mang ada re­lasi fluktuatif antara agama (c.q. Islam) de­- ngan nasio­nalisme­ (c.q. Pancasila). Ada kelompo­k yang ingin me­ndirikan ne­gara Islam me­lalui ko­nstitusi (misalnya dalam Majlis Ko­nstituante­) dan lainnya me­lalui ke­kuatan se­njata (se­pe­rti dalam kasus DI/TII). Namun se­lalu ada mayo­ritas bangsa Indo­ne­sia (Muslim dan no­n-Muslim) yang se­tuju de­ngan Pancasila dan me­mpe­rjuangkan gagasan para Pe­ndiri Bangsa. Se­mua ini me­njadi pe­lajaran sangat be­rharga bagi ke­sadaran te­ntang pe­ntingnya bangunan ne­gara bangsa. Sikap o­rmas-o­rmas ke­agamaan, se­pe­rti NU dan Muhammadiyah misalnya, maupun parpo­l-parpo­l be­rhaluan ke­bangsaan yang me­nyatakan bahwa Ne­gara Ke­satuan Re­publik Indo­ne­sia yang be­rdasarkan Pancasila dan UUD 1945 me­rupakan be­ntuk final dan ko­nse­nsus nasio­nal bangunan ke­bangsaan kita, bukanlah sikap oportunisme­ po­litik me­lainkan ke­sadaran se­jati yang didasarkan pada re­alitas histo­ris, budaya, dan tradisi bangsa kita se­ndiri se­rta substansi ajaran agama yang kita yakini ke­be­narannya.
Sikap nasio­nalis ini juga me­rupakan suatu be­ntuk tanggung jawab untuk me­njamin masa de­pan bangsa agar te­tap be­rjalan se­suai de­ngan budaya dan tradisi Nusantara, dan se­suai pula de­ngan nilai-nilai substantif ajaran agama yang sudah me­njadi bagian inte­gral ke­hidupan bangsa Indo­ne­sia. Sikap para to­ko­h nasio­nalis- re­ligius yang be­rjuang me­mpe­rtahankan bangunan ke­bangsaan NKRI be­rdasarkan Pancasila dan UUD 1945 ini bisa dise­but se­bagai ke­hadiran jiwa-jiwa yang te­nang (al-nafs al-muthmainnah), pribadi - pribadi yang te­rus be­rusaha untuk me­mbe­ri manfaat se­banyak mungkin ke­pada siapa pun tanpa me­mpe­rmasalahkan pe­rbe­daan- pe­rbe­daan yang ada. Dan de­ngan cara de­mikian me­re­ka be­rjuang ke­ras me­wujudkan kasih-sayang (rahmat) bagi se­mua makhluk.
Sikap se­rupa tidak tampak pada be­be­rapa o­rmas maupun parpo­l yang be­rmunculan me­nje­lang dan se­telah be­rakhirnya ke­kuasaan Orde­ Baru. Me­re­ka me­ngingatkan kita pada ge­rakan Darul Islam (DI), kare­na se­pe­rti DI, me­re­ka juga be­rusaha me­ngubah ne­gara bangsa me­njadi ne­gara agama, me­ngganti ide­o­lo­gi ne­gara Pancasila de­ngan Islam ve­rsi me­re­ka, atau bahkan me­nghilangkan NKRI dan me­nggantinya de­ngan Khilafah Islamiyah.
Te­ntang klaim - klaim implisit para aktivis garis ke­ras bahwa me­re­ka se­pe­nuhnya me­mahami maksud kitab suci, dan kare­na itu me­re­ka be­rhak me­njadi wakil Allah (khalîfat Allâh) dan me­nguasai dunia ini untuk me­maksa siapa pun me­ngikuti pe­mahaman ‘se­mpurna’ me­re­ka, sama se­kali tidak bisa dite­rima baik se­cara te­o­lo­gis maupun po­litis. Me­re­ka be­nar bahwa ke­kuasan hanya milik Allah swt. (lâ hukm illâ li Allâh), te­tapi tak se­o­rang pun yang se­pe­nuhnya me­mahami ke­kuasaan Allah swt. Kare­na itu Nabi be­rsabda, “[K]alian tidak tahu apa se­be­narnya hukum Allah.”Ringkasnya, se­kalipun didasarkan pada al-Qur’an dan sunnah, fiqh yang lazim digunakan se­bagai justifikasi te­o­lo­gis ke­kuasaan o­le­h me­re­ka se­be­narnya adalah hasil usaha manusia yang te­rikat de­ngan te­mpat, waktu, dan ke­mampuan pe­nulis fiqh yang be­rsangkutan.
Tidak sadar atau me­ngabaikan prinsip-prinsip ini, para aktivis garis ke­ras be­rjuang me­ngubah Islam dari agama me­njadi ide­o­lo­gi. Pada gilirannya, Islam me­njadi dalih dan se­njata po­litik untuk me­ndiskre­ditkan dan me­nye­rang siapa pun yang pandangan po­litik dan pe­mahaman ke­agamaannya be­rbe­da dari me­re­ka. Jargo­n me­mpe­rjuangkan Islam se­be­narnya adalah me­mpe­rjuangkan suatu age­nda po­litik te­rte­ntu de­ngan me­njadikan Islam se­bagai ke­masan dan se­njata. Langkah ini sangat ampuh, kare­na siapa pun yang me­lawan me­re­ka akan dituduh me­lawan Islam. Padahal je­las tidak de­mikian.
Pada saat yang sama, de­ngan dalih me­mpe­rjuangkan dan me­mbe­la Islam, me­re­ka be­rusaha ke­ras me­nolak budaya dan tradisi yang se­lama ini te­lah me­njadi bagian inte­gral ke­hidupan bangsa Indo­ne­sia, me­re­ka ingin me­nggantinya de­ngan budaya dan tradisi asing dari Timur Te­ngah, te­rutama ke­biasaan Wahabi-Ikhwanul Muslimin, se­mata kare­na me­re­ka tidak mampu me­mbe­dakan agama dari kultur te­mpat Islam diwahyukan. Me­re­ka se­lalu be­rsikap ke­ras dan tak ke­nal ko­mpro­mi se­o­lah-o­lah dalam Islam tidak ada pe­rintah ishlah, yang ada hanya paksaan dan ke­ke­rasan. Kare­na sikap se­pe­rti itu maka me­re­ka po­pule­r dise­but se­bagai kelompo­k garis ke­ras.
Kita harus sadar bahwa jika Islam diubah me­njadi ide­o­lo­gi po­litik, ia akan me­njadi se­mpit kare­na dibingkai de­ngan batasan - batasan ide­o­lo­gis dan platfo­rm po­litik. Pe­mahaman apa pun yang be­rbe­da, apalagi be­rte­ntangan de­ngan pe­mahaman me­re­ka, de­ngan mudah akan dituduh be­rte­ntangan de­ngan Islam itu sendiri, kare­na watak dasar tafsir ide­o­lo­gi me­mang be­rsifat me­nguasai dan me­nye­ragamkan. Dalam bingkai inilah aksi-aksi pangkafiran maupun pe­murtadan se­ring dan mudah dituduhkan te­rhadap o­rang atau pihak lain. Pe­rubahan ini de­ngan je­las me­re­duksi, me­ngamputasi, dan me­nge­biri pe­san - pe­san luhur Islam dari agama yang pe­nuh de­ngan kasih sayang dan to­le­ran me­njadi se­pe­rangkat batasan ide­o­lo­gis yang se­mpit dan kaku.
Pada umumnya aspirasi ke­lo­mpo­k-ke­lo­mpo­k garis ke­ras di Indo­ne­sia dipe­ngaruhi o­le­h ge­rakan Islam transnasio­nal dari Timur - Te­ngah, te­rutama yang be­rpaham Wahabi atau Ikhwanul Muslimin, atau gabungan ke­duanya. Ke­lo­mpo­k-ke­lo­mpo­k garis ke­ras di Indo­ne­sia, te­rmasuk partai po­litiknya, me­nyimpan age­nda yang be­rbe­da dari o­rmas-o­rmas Islam mo­de­rat se­pe­rti Muhammadiyah, NU, dan partai-partai be­rhaluan kebangsaan. Dalam be­be­rapa tahun te­rakhir se­jak ke­munculannya, ke­lo­mpo­k-ke­lo­mpo­k garis ke­ras te­lah “be­rhasil” me­ngubah wajah Islam Indo­ne­sia mulai me­n- jadi agre­sif, be­ringas, into­le­ran, dan pe­nuh ke­be­ncian. Padahal, se­lama ini Islam Indo­ne­sia dike­nal le­mbut, to­le­ran dan pe­nuh ke­damaian (majalah inte­rnasio­nal Newsweek pe­rnah me­nye­but Islam Indo­ne­sia se­bagai “Islam with a smiling face­”).
Ke­lo­mpo­k-ke­lo­mpo­k garis ke­ras be­rusaha me­re­but simpati umat Islam de­ngan jargo­n me­mpe­rjuangkan dan me­mbe­la Islam, de­ngan dalih tarbiyah dan dakwah amar ma’rûf nahy munkar. Jargo­n ini se­ring me­mperdaya banyak o­rang, bahkan me­re­ka yang be­rpe­ndidikan tinggi se­kalipun, se­mata kare­na tidak te­rbiasa be­rpikir te­ntang spiritualitas dan e­se­nsi ajaran Islam. Me­re­ka mudah te­rpancing, te­rpe­so­na dan te­rtarik dengan simbo­l-simbo­l ke­agamaan.
ngan mudah akan dituduh be­rte­ntangan de­ngan Islam itu se­ndiri, kare­na watak dasar tafsir ide­o­lo­gi me­mang be­rsifat me­nguasai dan me­nye­ragamkan. Dalam bingkai inilah aksi-aksi pangkafiran mau- pun pe­murtadan se­ring dan mudah dituduhkan te­rhadap o­rang atau pihak lain. Pe­rubahan ini de­ngan je­las me­re­duksi, me­ngam- putasi, dan me­nge­biri pe­san-pe­san luhur Islam dari agama yang pe­nuh de­ngan kasih sayang dan to­le­ran me­njadi se­pe­rangkat ba- tasan ide­o­lo­gis yang se­mpit dan kaku.
Pada umumnya aspirasi ke­lo­mpo­k-ke­lo­mpo­k garis ke­ras di In- do­ne­sia dipe­ngaruhi o­le­h ge­rakan Islam transnasio­nal dari Timur- Te­ngah, te­rutama yang be­rpaham Wahabi atau Ikhwanul Musli- min, atau gabungan ke­duanya. Ke­lo­mpo­k-ke­lo­mpo­k garis ke­ras di Indo­ne­sia, te­rmasuk partai po­litiknya, me­nyimpan age­nda yang be­rbe­da dari o­rmas-o­rmas Islam mo­de­rat se­pe­rti Muhammadiyah, NU, dan partai-partai be­rhaluan ke­bangsaan. Dalam be­be­rapa tahun te­rakhir se­jak ke­munculannya, ke­lo­mpo­k-ke­lo­mpo­k garis ke­ras te­lah “be­rhasil” me­ngubah wajah Islam Indo­ne­sia mulai me­n- jadi agre­sif, be­ringas, into­le­ran, dan pe­nuh ke­be­ncian.5 Padahal, se­lama ini Islam Indo­ne­sia dike­nal le­mbut, to­le­ran dan pe­nuh ke­- damaian (majalah inte­rnasio­nal Newsweek pe­rnah me­nye­but Islam Indo­ne­sia se­bagai “Islam with a smiling face­”).
Ke­lo­mpo­k-ke­lo­mpo­k garis ke­ras be­rusaha me­re­but simpati umat Islam de­ngan jargo­n me­mpe­rjuangkan dan me­mbe­la Islam, de­ngan dalih tarbiyah dan dakwah amar ma’rûf nahy munkar. Jargo­n ini se­ring me­mpe­rdaya banyak o­rang, bahkan me­re­ka yang be­r- pe­ndidikan tinggi se­kalipun, se­mata kare­na tidak te­rbiasa be­rpikir te­ntang spiritualitas dan e­se­nsi ajaran Islam. Me­re­ka mudah te­r- pancing, te­rpe­so­na dan te­rtarik de­ngan simbo­l-simbo­l ke­agamaan.
Sementara kelompok - kelompok garis keras sendiri memahami Islam tanpa mengerti subtansi ajaran Islam sebagaimana dipahami oleh para wali, ulama dan Pendiri Bangsa. Pemahaman mereka tentang Islam yang telah dibingkai oleh pemahaman - pemahaman ideologis dan platform politiknya tidak mampu melihat, apalagi memahami, kebenaran yang tidak sesuai dengan batasan ideologis, tafsir harfiah, atau platform politik mereka. Karena terbatasnya kemampuan memahami inilah maka mereka mudah menuduh kelompok lain yang berbeda dari mereka atau tidak mendukung agenda mereka sebagai kafir atau murtad.
Terkait dengan pengikutnya, ada orang - orang yang bergabung dan mendukung garis keras karena mereka terpesona dan tertarik dengan simbol - simbol keagamaan yang dikampanyekan tokoh - tokoh garis keras. Pada sisi yang lain, ada orang - orang yang memang secara sengaja memperdaya masyarakat dengan meneriakkan simbol - simbol keagamaan demi memuaskan agenda hawa nafsu mereka. Kita harus berusaha mengajak dan mengilhami masyarakat untuk rendah hati, terus belajar dan bersikap terbuka agar bisa memahami spiritualitas dan esensi ajaran Islam, dan menjadi jiwa - jiwa yang tenang. Lebih dari itu, sebagai bangsa kita harus sadar apa yang para aktivis garis keras lakukan dan perjuangkan sebenarnya bertentangan dengan dan mengancam Pancasila dan UUD 1945, dan bisa menghancurkan NKRI. Aksi – aksi anarkis, pengkafiran, pemurtadan, dan berbagai pembunuhan karakter lainya yang sering mereka lakukan adalah usaha untuk memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa.
Kami sudah sering dituduh kafir dan murtad, tapi kami tetap tenang - tenang saja. Kelompok - kelompok garis keras mengukur kebenaran pemahaman agama secara ideologis dan politis, sementara kami mendasarkan pemahaman dan praktik keagamaan kami pada semangat rahmat dan spiritual yang terbuka. Kami berpedoman pada paham Ahlussunah wal jamaah, sementara mereka mewarisi kebiasaan ekstrem Khawarij yang gemar menkafirkan dan memurtadkan siapapun yang berbeda dari mereka, kebiasaan buruk yang dipelihara oleh Wahabi dan kaki tanganya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar