Selasa, 02 Agustus 2011

ILUSI NEGARA ISLAM (Epilog)

Epilog
BELAJAR TANPA AKHIR 
A. Mustofa Bisri

BUKU ILUSI NEGARA ISLAM INI BISA DIBACA DARI SUDUT PANDANG politik dan pendidikan. Secara politik, buku ini bisa menjadi pe­ringatan bagi bangsa Indonesia tentang adanya bahaya tersembu­nyi dalam gagasan dan usaha­-usaha untuk mengubah Indonesia dari negara bangsa menjadi negara agama, Negara Islam. Hal ini ti­dak hanya berbahaya bagi bangsa Indonesia, tetapi juga bagi Islam sendiri. Bagi bangsa Indonesia , perubahan menjadi negara agama akan menjadi awal reduksi kekayaan budaya dan kebebasan ber­-agama tidak hanya bagi nonmuslim melainkan juga bagi Muslim sendiri, bahkan distorsi terhadap Islam sendiri. Bagi nonmuslim, perubahan ini bisa membuat mereka mengalami alienasi psikolo­gis dan sosial di sebuah negara yang menganut keyakinan resmi berbeda dari keyakinan yang mereka anut. Sedangkan bagi Mus­lim, perubahan ini akan berarti penyempitan, pembatasan, dan hi­ langnya kesempatan untuk menafsirkan pesan­pesan agama sesuai dengan konteks sosial dan budaya bangsa Indonesia, dan setiap pembacaan yang berbeda dari tafsir resmi negara akan menjadi subversif dan harus dilarang.
Bagi Islam sendiri, formalisasi akan mengubahnya dari agama menjadi ideologi yang batas­batasnya akan ditentukan berdasarkan kepentingan politik. Islam yang semula bersifat terbuka dan luas, hidup layaknya organisma yang komunikatif dan interaktif dengan situasi dan kondisi para penganutnya, dan akan dibungkus dalam kemasan ideologis dan berubah menjadi monumen yang diagung­ kan tanpa peduli pada tujuan sejati dan luhur agama itu sendiri. Akhirnya, agama menjadi ghâyah, tujuan akhir, bukan lagi jalan sebagaimana semula ia diwahyukan. Keridlâan Allah yang merupa­ kan ghâyah pun semakin jauh.
Usaha-­usaha menjadikan Islam sebagai ideologi dan mewu­ judkan Negara Islam boleh jadi disebabkan adanya semangat yang berlebihan namun tidak didukung oleh pengetahuan yang memadai. Semangat yang berlebihan dapat mendorong seseorang untuk memutlakkan pengetahuan yang dicapai, sekalipun bersi­ fat parsial. Akibatnya, pengetahuan lain yang berbeda dipandang sebagai salah dan harus ditolak. Menarik membandingkan pema­ haman parsial ini dengan hikayat “Meraba Gajah dalam Gelap,” lima orang yang berselisih tentang gajah semata karena mereka ma­ sing­masing merabanya dalam gelap, dalam terbatasnya jangkauan pengetahuan, dan dalam ketiadaan cahaya (hidâyah).
Bagi siapa pun yang mengerti sepenuhnya tentang gajah, sungguh menggelikan mendengar kelima orang itu terus berselisih, bersikeras memaksakan definisinya tentang gajah berdasarkan ha­ sil rabaan yang dilakukannya. Sialnya lagi, karena memang tidak percaya diri dengan pengetahuan yang dicpainya, ada di antara mereka yang berusaha menjadikan pemahamannya tentang gajah sebagai madzhab resmi, sementara pemahaman rekannya yang ber­ beda, karena menjadi ancaman bagi pandangan resminya, dipan­ dang sebagai subversif dan harus dibungkam.
Tidak berhenti di situ saja. Karena semangat yang berle­ bihan dan merasa mengamalkan sabda Nabi, “Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat,” —kembali ke hikayat gajah— ada sajayang bersikeras dan memaksa orang lain mengakui bahwa gajah seperti pohon, atau ayunan, atau tembok, atau pecut, atau kipas. Atau, dalam realitas interaksi sosial­religius, Islam direduksi men­ jadi ideologi dan seperangkat konklusi hukum semata, yang ha­ nya mewakili sebagian kecil aspek ajaran Islam sendiri. Semangat menyampaikan dari Rasulullah SAW yang terlalu besar, ternyata sering membuat orang memahami sabda beliau itu hanya menjadi “Sampaikan dariku cukup satu ayat saja.” Dan semakin parah lagi bila yang bersangkutan menganggap bahwa satu ayat yang dimili­ kinya itu adalah satu­satunya kebenaran yang harus disampaikan kemana­mana dengan mempersetankan ayat­ayat lainnya.
Andai masing-­masing terus belajar, saling mendengarkan de­ngan yang lain, tentu pemahaman mereka akan lebih baik dan lengkap. Karena sebenarnya, kebenaran kita berkemungkinan salah, dan kesalahan orang lain berkemungkinan benar. Siapa pun yang telah tertutup mata hatinya —antara lain karena merasa diri paling pintar dan paling benar­— tidak akan mampu melihat pema­ haman lain yang berbeda, yang tersisa adalah arogansi (takabbur) dan penolakan terhadap yang lain. Ketika arogansi dimulai, keti­ ka mendengarkan orang lain diakhiri, ketika belajar dihentikan, maka kebodohan dimulai, suatu keadaan yang sangat berbahaya bagi yang bersangkutan dan seluruh umat manusia.
Kebodohan adalah bahaya tersembunyi yang ada dalam setiap orang, mengatasinya adalah dengan terus belajar dan terus mende­ ngarkan orang lain. Karena kebodohan pula ada orang­orang yang berusaha menyenangkan Nabi dengan hanya meniru penampilan lahiriahnya namun mengabaikan aspek khulûqiyahnya; ada yang ingin menyenangkan Tuhan dengan membangun negara agama namun mengubah agama itu sendiri dari semula sebagai jalan kemudian menjadi tujuan akhir. Mereka berpikir, Kanjeng Nabi Muhammad saw., akan bahagia jika umatnya memakai busana se­ bagaimana beliau pakai empat belas abad yang lalu; Mereka ber­ pikir, Allah swt. akan senang (ridlâ) jika Islam dijadikan ideologi resmi negara dan hamba­Nya membangun negara agama, Negara Islam. Dalam hal inilah mereka lupa bahwa Kanjeng Nabi Muham­ mad saw. telah menegaskan diri bahwa beliau diutus untuk me­nyempurnakan akhlak mulia, akhlak yang luhur (innamâ bu‘itstu li utammima makârim al-akhlâq), mereka juga lupa bahwa satu­satunya prinsip dan tujuan diutusnya Rasûl Allâh adalah sebagai rahmat bagi seluruh makhluk (wa mâ arsalnâka illâ rahmatan lil-‘âlamîn). Bahkan, dengan berdalih untuk menegakkan rahmat ini pun, ada saja yang berusaha memaksa orang lain masuk ke dalam apa yang mereka anggap rahmat; sebuah tindakan yang dari sudut pandang mana pun sebenarnya bertentangan dengan semangat rahmat itu sendiri.
Dalam konteks pendidikan dan dalam konteks nilai-­nilai luhur pesan utama Islam ini, buku Ilusi Negara Islam ini mem­bawa pesan pendidikan yang sangat jelas dan tegas. Bahaya laten atau bahaya tersembunyi yang sebenarnya dari gagasan pembentu­ kan Negara Islam adalah kekurangtahuan yang dibarengi dengan anggapan kesempurnaan pengetahuan. Jika semua orang terus be­ lajar dan mau mendengarkan yang lain, maka mereka akan sema­ kin baik dan menyeluruh dalam memahami Islam, mereka tidak akan mereduksi Islam menjadi idelogi atau tata negara. Mereka akan tahu bahwa Islam tidak cukup dikemas dalam ideologi, tidak memadai dibungkus dalam sekat­sekat tata negara. Karena itu, ga­ gasan penting dalam buku ini adalah perjuangan untuk terus men­ dorong setiap orang agar terus belajar, perjuangan untuk melawan kebodohan, perjuangan untuk mendorong setiap orang agar terus membuka diri kepada siapa pun, perjuangan untuk membebaskan setiap orang agar keluar dari kotak­kotak ideologis dan kotak-­kotak dogmatis yang selama ini membelenggu mereka dan telah men­ jebak mereka memahami ajaran luhur agama hanya sebata pesan yang bisa ditampung oleh kotak yang mereka bangun.
Sekali lagi, ketidaktahuan bisa diatasi dengan melihat, men­ dengar, dan memperhatikan. Dengan terus belajar. Yang sungguhsulit dan menjadi masalah adalah jika orang tidak lagi memerlu­ kan belajar dan mencari kebenaran karena merasa sudah sempur­ na pengetahuannya dan menganggap diri paling benar. Siapa pun mungkin akan sepakat bahwa kebodohan adalah sesuatu yang sang­ at berbahaya, namun tidak setiap orang sadar akan bahaya laten kebodohan dalam dirinya sendiri.
WaLlâhu A‘lam.
Rembang, 9 Pebruari 2009

Tidak ada komentar:

Posting Komentar